Showing posts with label are_da. Show all posts
Showing posts with label are_da. Show all posts

Friday, October 17, 2008

PROFIL DA`IE


BUYA HAMKA (1908-1981)


ULAMA , POTISI DAN SASTERAWAN BESAR


Buya Hamka seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. HAMKA adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981.


Dia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya, Syeikh Abdul Karim bin Amrullah, disapa Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah 1906.


HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.


Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padangpanjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).


Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 apabila beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mula menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.


Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.


Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada pemerintah Indonesia.


Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.


DAFTAR KARYA BUYA HAMKA


- Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.

- Si Sabariah. (1928)

- Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.

- Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).

- Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).

-Kepentingan melakukan tabligh (1929).

- Hikmat Isra' dan Mikraj.

- Arkanul Islam (1932) di Makassar.

- Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.

- Majallah 'Tentera' (4 nomor) 1932, di Makassar.

- Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.

- Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.

- Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.

- Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.

- Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.

- Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.

- Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.

- Tuan Direktur 1939.

- Dijemput mamaknya,1939.

- Keadilan Ilahy 1939.

- Tashawwuf Modern 1939.

- Falsafah Hidup 1939.

- Lembaga Hidup 1940.

- Lembaga Budi 1940. -

Majallah 'SEMANGAT ISLAM' (Zaman Jepun 1943).

- Majallah 'MENARA' (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.

- Negara Islam (1946).

- Islam dan Demokrasi,1946.

- Revolusi Pikiran,1946.

- Revolusi Agama,1946. -

Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.

- Dibantingkan ombak masyarakat,1946.

- Didalam Lembah cita-cita,1946.

- Sesudah naskah Renville,1947.

- Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947

- Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi, Sedang Konperansi Meja Bundar.

- Ayahku,1950 di Jakarta.

- Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.

- Mengembara Dilembah Nyl. 1950.

- Ditepi Sungai Dajlah. 1950.

- Kenangan-kenangan hidup

1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai tahun 1950.

- Kenangan-kenangan hidup

2. - Kenangan-kenangan hidup

3. - Kenangan-kenangan hidup

4. - Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.

- Sejarah Ummat Islam Jilid 2.

- Sejarah Ummat Islam Jilid 3.

- Sejarah Ummat Islam Jilid 4.

- Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.

- Pribadi,1950.

- Agama dan perempuan,1939.

- Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.

- 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).

- Pelajaran Agama Islam,1956.

- Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.

- Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.

- Empat bulan di Amerika Jilid 2. -

Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.

- Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.

- Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.

- Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.

- Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.

- Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.

- Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.

- Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.

- Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.

- Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).

- Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).

- Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.

- Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.

- Himpunan Khutbah-khutbah.

- Urat Tunggang Pancasila.

- Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.

- Sejarah Islam di Sumatera.

- Bohong di Dunia. -

Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang). - Pandangan Hidup Muslim,1960.

- Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.

- Tafsir Al-Azhar [1] Juzu' 1-30, ditulis pada saat dipenjara


AKTIVITI LAINNYA


- Memimpin Majalah Pedoman Masyarakat, 1936-1942

- Memimpin Majalah Panji Masyarakat dari tahun 1956

- Memimpin Majalah Mimbar Agama (Departemen Agama), 1950-1953

Saturday, October 11, 2008

Perundangan Islam...


Pelaksanaan undang-undang Islam adalah suatu tuntutan agama yang perlu dilaksanakan serta merupakan salah satu ciri untuk kesempurnaan identiti negara Islam yang pernah diwar-warkan suatu ketika dahulu oleh seorang pemimpin negara.

Perlembagaan mencerminkan transformasi bangsa dan perlembagaan sesebuah negara boleh berubah.Bekas Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad telah mengisytiharkan Malaysia sebagai sebuah negara Islam dalam sebuah persidangan. Maka sewajarnya disusuli dengan tindakan bagi menjadikan perisytiharan tersebut menjadi suatu realiti.

Sepatutnya selepas negara Islam bebas daripada kuasa penjajah , langkah-langkah positif perlu diambil bagi mengembalikan semula undang-undang Islam ke pangkuan umat.Untuk itu perlulah kepada penyediaan dan penggubalan undang-undang yang lengkap untuk mengambil alih undang-undang penjajah dan membina kefahaman umat terhadap kepentingan undang-undang Islam untuk kekuatan negara dan perpaduan umat serta menyusun sistem pentadbiran kehakiman yang sesuai dengan keperluan undang-undang Syariah Islamiah.

Monday, September 29, 2008

Keperluan Tajdid Fiqh Di Malaysia


Tajdid di dalam bidang fiqh lebih membawa kepada usaha mengembalikan umat Islam kepada penghayatan fiqh Islami yang sebenarnya dan juga memberikan fiqh Islami ruang untuk menyelesaikan masalah umat Islam. Demi menjayakan penerapan fiqh sebagai panduan untuk menyelesaikan masalah manusia, fiqh itu sendiri haruslah bersifat universal dan tidak terkongkong serta jumud. Ijtihad-ijtihad yang telah membina fiqh pada zaman klasik sudah tentunya memerlukan pengkajian semula, kerana ianya mungkin tidak relevan lagi dengan suasana semasa. Sikap taasub dan terkongkong di dalam satu mazhab tanpa mengiktiraf dan mengambil kebaikan daripada pendapat orang lain juga perlu dirungkaikan. Persembahan fiqh dalam bentuk yang lebih moden dan juga tidak rigid juga merupakan salah satu tuntutan tajdid. Fiqh yang hanya menumpukan pada ruang- ruang tertentu dan sempit, perlulah dikeluarkan kepada dunia yang sebenar. Seperti kata Dr Wahbah al-Zuhaily: "Agama Islam bukanlah hanya pada ibadat semata- mata, ataupun akhlak dan adab sahaja, tetapi ianya adalah dunia dan juga akhirat, fizikal dan juga spritual, dan juga tamadun..."(Wahbah al- Zuhaily et. al.(2000), Tajdid al-Fiqh al-Islamiyy, Damsyik: Dar al- Fikr. hal. 155-158)

Thursday, September 25, 2008

Islam Dan Bahaya Kemurtadan


Dewasa ini, masyarakat Islam menghadapi serangan-serangan yang keras yang bertujuan untuk mencabut nilai-nilai Islam dari akarnya. Di antaranya ini dilakukan melalui serangan pendakwah Kristian yang bekerjasama dengan imperialis Barat. Mereka terus melakukan aktiviti tersebut di dunia Islam terutamanya di wilayah minoriti Islam, bertujuan untuk mengkristiankan kaum Muslimin di dunia sebagaimana yang diumumkan dalam muktamar 'Colorado' pada tahun1978 yang membahas tidak kurang daripada empat puluh agenda seputar Islam dan kaum Muslimin termasuk strategi untuk menyebarkan agama Kristian di kalangan kaum Muslimin dengan dana seribu juta dolar. Selain itu, telah didirikan lembaga 'Zwemmer' untuk mengeluarkan para pakar dalam bidang mengkristiankan kaum muslimin. Bahaya besar yang dihadapi oleh masyarakat adalah ancaman terhadap akidah. Oleh kerana itu, murtad daripada agama atau kufur setelah iman merupakan bahaya terbesar bagi masyarakat Islam.

Islam Di Dunia Melayu: Mengimbau Sejarah dan Mendepani Realiti


Islam di alam Melayu mempunyai tautan dan susur galur sejarah yang amat panjang. Malahan teori kedatangan Islam ke dunia Melayu juga masih diperdebatkan lagi kerana terdapat banyak fakta daripada ahli-ahli sejarah yang masing- masing mempunyai bukti bagi menyokong segala fakta yang diberikan. Maka, tinggal pada kita untuk menerima mana satu fakta untuk dijadikan sumber rujukan.


Di sini bukan pertikaian mengenai kedatangan Islam yang ingin dibicarakan, tetapi bagaimana Islam dapat diserap ke alam Melayu dan cabarannya pada masa kini. Salah satu kaedah penyebaran syiar Islam ialah melalui media dakwah. Terbukti kaedah ini berkesan apabila Parameswara selaku raja Melaka memeluk Islam dan menukar namanya kepada Sultan Megat Iskandar Shah.


Implikasi penting daripada peristiwa tersebut mengakibatkan rakyat Melaka di zaman itu menerima Islam beramai-ramai serta menjadikannya cara hidup mereka. Apa yang pasti kini, Islam dan Melayu mempunyai satu pautan yang sangat erat dan istimewa sehingga undang-undang ditakrif dalam Perlembagaan Malaysia sebagai Melayu itu semestinya Islam...